Laporan Bacaan
O
L
E
H
Juniarti
11901314
PAI 4D
Identitas Jurnal :
Judul : Memahami Karakteristik Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran
Penulis : Janawi
Penerbit : Tarbawy : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 6, No. 2, 2019,
Karakteristik peserta didik tidak hanya menjadi pengetahuan kognitif pendidik, tetapi implementasi pengetahuan kepada tataran riil proses pembelajaran. Itulah sebabnya karakteristik anak didik sebagai suatu elemen penting, menjadi vital dalam proses pembelajaran.
Mulyasa menjelaskan bahwa di antara permasalahan-permasalahan pokok dunia pendidikan adalah kurangnya creativy quoetient pada anak (E. Mulyasa, 2007). Karakteristik anak perlu dielaborasi dan disinkronisasi dengan pelaksanaan tugas pendidik di kelas maupun di luar kelas. Di samping itu perubahan siklus generasi menuntut perubahan pendekatan pembelajaran. Generasi X berbeda dengan Generasi Y. Pendekatan generasi milineal tentu berbeda dengan generasi “baby-boomers” dan lain seterusnya. Apabila keliru dalam pendekatan, maka persoalan pendidikan semakin mencuat. Janawi menegaskan bahwa pendidikan harus menyentuh watak peserta didik dan pendidikan yang bermakna bagi kehidupan anak (Janawi, 2019). Dalam istilah Tillar, The Standardized Minds yang berorientasi pada karakteristik anak menjadi geologi standa dalam dunia Pendidikan (H.A.R. Tilaar. 2006). Bahkan memahami kepribadian dan perilaku anak (karakteristik anak) menurut Janawi dapat bersumber pada dua hal penting, yaitu unsur natural (unsur genetis) dan nurture (unsur pola asuh) (Janawi, 2019).
Hakekat Anak Didik
Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa Pendidikan dipahami sebagai usaha sadar dan terencana dalam rangka mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Proses pembelajaran berorientasi pada peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki seperti memiliki ; [1] kekuatan spiritual keagamaan; [2] pendendalian diri; [3] kepribadian; [4] kecerdasan; [5] akhlak mulia; dan [6] keterampilan (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003). Elemen penting dalam Undang-Undang Sistem Pendidkan Nasional ini menjadi barometer keberhasilan pembelajaran dan dunia pendidikan nasional. Artinya, sistem pendidikan nasional bertanggung jawab dalam menentukan masa depan anak-anak. Masa depan mereka akan menentukan masa depan bangsa. Untuk itu, memahami anak didik perlu dilakukan secara komprehensif. Dalam pendekatan pembelajara modern, anak bukanlah obyek pembelajaran. Anak menjadi faktor penting pembelajaran dan sekaligus menjadi subyek pembelajaran. Anak mengikuti pembelajaran dan sekaligus berpartisipasi langsung dalam proses pembelajaran. Kerangka ideal tersebut tercapai apabila pembelajaran dilakukan oleh tenaga pendidik profesional
Anak hidup dan dibentuk dalam lingkungan yang beragam. Goldin–Meadow (2008) menyebutkan bahwa lingkungan akan mempengaruhi anak dalam berbagai dimensi. Diantara pengaruh yang jelas dan dapat diobservasi adalah bagaimana seorang anak berkembang dan belajar dari lingkungan. Untuk itu, dalam proses pendidikan modern, anak didik tidak dipandang sebagai obyek pembelajaran, tetapi anak didik adalah subyek pembelajaran. Sebagai subyek pembelajaran, anak menjadi pusat pembelajaran. Anak didik berada dalam fase yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Untuk mengarahkan fase-fase tersebut, anak didik perlu mendapat bantuan dari para tenaga pendidik, termasuk orang tua bahkan masyarakat.
Banyak pakar Pendidikan telah menjelaskan tentang hakekat anak didik dan kemampuan ptensial yang dimiliki anak. Menurut Conny R. Semiawan, manusia belajar, tumbuh dan berkembang dari pengalaman yang diperolehnya. Setiap anak dilahirkan dengan perbedaan kemampuan, bakat dan minat. Berbagai perbedaaan tersebut merupakan faktor yang ikut mempengaruhi prestasi belajar anak. Untuk itu anak diberikan kesempatan mendapatkan apa yang diinginkan sehingga anak dapat berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya masing-masing. Perbedaan-perbedaan tersebut harus diperhatikan (Cony Semiawan, R. 2002)
Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya bahwa peserta didik memiliki karakteristik terdiri. Ia berbeda antara satu dan lainnya. Peserta didik kembar identik pun memiliki perbedaan, meskipun ia memiliki banyak kesamaan. Untuk mengetahui karakteristik peserta didik ini, pendidik harus memahami dan menguasai teori-teori psikologi seperti psikologi belajar, psikologi pendidikan, psikologi perkembangan, psikologi kepribadian, dan berbagai pendekatan lain yang dapat memaksimalkan perhatian terhadap peserta didik. Salah satu tugas yang perlu dilakukan guru sebelum melaksanakan pembelajaran adalah mengetahui karakteristik anak didiknya. Ini penting dilakukan untuk memudahkan guru melaksanakan pembelajaran efektif dan efisien. Efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan baik, sedangkan efiesien dalam mencapai tujuan pembelajaran dalam waktu yang relatif singkat.
Indikator utama keberhasilan poses pembelajaran anak pada perspektif nurture adalah behavioral changing. Perubahan-perubahan yang terjadi pada anak dapat diobservasi oleh guru secara berkesinambungan. Namun beberapa kelemahan mendasar pada pandangan ini di antaranya, guru agak kesulitan dalam memahami emosi, penalaran, pemecahan masalah, dan kemampuan berfikir kritis. Perubahan yang mudah diamati merupakan perubahan yang ditampakkan dalam perbuatan (fisik-psikomotorik anak). Sedangkan perubahan yang bersifat psikologis lebih sulit diamati.
Di samping itu, pandangan behaviorisme lebih mementingkan keseragaman (unifikasi) di kelas. padahal unifikasi behavioristik anak sulit terjadi, karena setiap anak memiliki perbedaan baik perbedaan natural maupun nurture.
Tenaga pendidik (guru) memegang peran penting dalam proses pembelajaran di kelas dan bahkan dalam meningkatkan kualitas Pendidikan di sebuah sekolah, daerah, dan nasional. Guru sebagai komponen kunci dalam proses pendidik dituntut untuk mampu menyelenggarakan proses pembelajaran yang mendidik. Peran besar inilah yang dituntut dari guru, khususnya dalam pembentukan karakter anak maupun karakter bangsa. Karakter yangdiharapkan bukan hanya memiliki kecerdasan dan keterampilan, tetapi karakter akhlak mulida dan spritualitas-keagamaan. Dalam menggapai tujuan itu, implikasi proses belajar diarahkan pada proses pembelajara yang berorientasi pada anak didik.
Menurut Dimyati & Mudjiono (2006), belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, belajar hanya dialami oleh anak sendiri. Proses belajar terjadi karena anak memperoleh pengalaman yang ada dilingkungan sekitarnya. Atau dalam istilah Davies, tujuan akhir dari pengajaran (pembelajaran) adalah perubahan dan perubahan itu sendiri oleh interaksi anak dengan lingkungannya (Davies. 1986). Untuk itu, dalam memahami karakteristik peserta didik, seorang tenaga pendidik membutuhkan disiplin ilmu seperti Psikologi Belajar, Psikologi Perkembangan, Psikologi kepribadian, dan bahkan dimungkin ilmu-ilmu yang berkaitan dengan disiplin ilmu komunikasi. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam memahami karakteristik anak didik, yaitu:
1. Membangun komunikasi verbal
komunikasi verbal perlu dilakukan pada setiap kesempatan dalam proses pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Komunikasi verbal diakukan dengan melibatkan peserta didik secara langsung. Pelibatan peserta didik dilakuka dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan interaktif yang beragam, namun pertanyaan-pertanyaan tersebut masih dalam lingkup partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Sebagai catatan penting, komunikasi verbal dapat efektif apabila peserta didik dipandang sebagai subyek, bukan obyek pembelajaran.
2. Menjadi figur yang
Figur yang baik akan menjadi teladan bagi peserta didik. Ia memiliki beberapa kriteria seperti
rasa optimis, komunikatif, memiliki charisma, dan perduli dengan lingkungan sekitar, termasuk
dunia anak-anak. Beberapa kriteria tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam memahami
karakter peserta didik. Keteladanan dala bersikap, berkata, dan berkomunikasi yang baik dapat
dilakukan dengan menjadi pendengar yang setia atau siap mendengar keluh kesah anak didik.
3. Berhati-hati dalam menyimpulkan karakter peserta didik
Pendidik perlu bersikap hati-hati dalam mengambilkan sebuah kesimpulan, apalagi
kesimpulan tersebut mengarah pada upaya memahami karakter peserta didik. Tenaga pendidik
menghadirkan semua potensi dan memberikan respon secara bijak untuk mengoptimalisasi
pemahaman terhadap karakter secara komprehensif.
4. Mengenal tanda-tanda keanehan peserta didik
Tanda-tandan yang dimaksud disini adalah tanda fisik maupun non fisik. Pada dasarnya
tidak ada sesuatu yang dianggap aneh, tapi yang ada adalah keunikan karakteristik. Fenomena
sikap peserta didik perlu disikapi dengan memperhatkan karakter personal dan kelompok anak
dalam proses pembelajaran.
5. Bersifat terbuka
Bersikap terbuka menjadi sikap penting dimiliki oleh pendidik. Bersikap terbuka pada peserta
didik berarti memberikan peluang secara luas untuk memahami karakter anak. Dengan sikap
terbuka, pada umumnya anak didik akan bersikap terbuka pada pendidik. Anak didik
memerlukan perhatian dari pendidik baik dalam kelas maupun di luar kelas. Karakter yang
dimiliki anak beragam. Keragaman itu tentu menentukan cara, dan pendekatan tenaga pendidik
dalam proses memahami sifat dan karakter anak.
Anak memiliki kesempatan yang sama dalam proses pembelajaran. Kelemahan fisik bukan
menjadi alasan pembelajaran. Kelemahan fisik atau keterbatasan fisik anak tentu menuntun cara,
metode, strategi dan bahkan pendekatan yang akan dilakukan dalam pembelajaran.
Menguasai karakteristik peserta didik berhubungan dengan kemampuan guru dalam
memahami kondisi anak didik. Anak dalam dunia pendidikan modern adalah subyek dalam proses
pembelajaran. Anak tidak dilihat sebagai obyek pendidikan, karena anak merupakan sosok individu
yang membutuhkan perhatian dan sekaligus berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Anak juga
memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda satu dengan yang lainnya baik dari segi minat, bakat,
motivasi, daya serap mengikuti pelajaran, tingkat perkem- bangan, tingkat inteligensi, dan memiliki
perkembangan sosial tersendiri.
Dalam proses pembelajaran, anak didik menjadi pusat perhatian. Anak didik ingin menjadi manusia seperti tujuan pendidikan itu sendiri. Tujuan manusia yang diinginkan seperti tergambar dalam tujuan pendidikan harus sesuai dengan gambaran tentang anak. Disinilah letaknya, seorang guru dibutuhkan mempelajari psikologi baik psikologi pendidikan, psikologi perkembangan maupun psikologi belajar.
Yang terpenting dipahami guru sebenarnya adalah bagaimana memahami dunia anak, karakteristik anak, dan proses pendidikan anak. Setiap anak mempunyai persamaan dan perbedaan. Anak merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Setiap periode perkembangan anak harus dipahami guru. Perkembangan anak pra sekolah (usia Taman Kanak Kanak), berbeda dengan tahap perkem- bangan anak usia Sekolah baik tingkat dasar maupun menengah. Perkembangan anak mengalami siklus dan irama perkembangan tersendiri. Oleh karena itu guru tidak boleh tidak, perlu menyelami dunia anak, potensi anak, minat dan bakat anak, memotivasi belajar anak, dan permasalahan lain yang berhubungan dengan anak. Penggunaan metode juga menjadi salah satu yang terpenting dipahami oleh guru agar dapat memahami karakteristik anak didik.
Anak memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan karakteristik membutuhkan perhatian dan pendekatan yang berbeda. Walaupun sistem pendidikan masih menerapkan sistem klasikal, namun guru dituntut untuk memberikan perhatian tertentu pada anak didiknya dalam proses pembelajaran. Di satu sisi guru memberikan perhatian kepada seluruh anak yang ada dalam proses pembelajaran di kelas, di sisi lain guru harus memberikan perhatian khusus pada anak-anak tertentu. Oleh karena itu, guru harus menguasai teori dan prinsip-prinsip pembelajaran.