Laporan Bacaan
O
L
E
H
Juniarti
11901314
PAI 4D
Identitas Jurnal :
Judul : Strategi Pembelajaran
Penulis : Prof. Dr. Sri Anitah W.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pada kesempatan kali ini jurnal yang dilaporkan yaitu yang berjudul Strategi Pembelajaran yang ditulis oleh Prof.Dr.Sri Anita W.
Bagi seorang pendidik atau kita yang sebagai calon guru tentu tidak asing lagi dengan istilah strategi pembelajaran.
Strategi pembelajaran membutuhkan cakupan keilmuan yang sangat luas, tidak hanya itu strategi pembelajaran juga mencakup tentang berbagai macam ilmu metode pengajaran, berbagai macam teori, berbagai macam konsep, berbagai macam model pembelajaran, serta berbagai macam model pengelolaan kelas. Selain itu, dalam melaksanakan strategi pembelajaran harus linier atau sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku seperti kaidah pedagogis dan edukatif.
Disini menurut saya mengapa seorang pendidik harus bisa memahami makna tentang strategi pembelajaran, yaitu karena pada era milenial ini, tolak ukur kemajuan bangsa ditinjau dari aspek sumber daya manusianya. Tolak ukur tersebut mengharuskan suatu bangsa memperkuat sektor pendidikannya. Untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif, maka mengharuskan adanya sektor pendidikan yang unggul pula. Pendidikan merupakan sebuah sistem yang memiliki berbagai komponen yang saling berkaitan. Salah satu komponen terpenting dalam pendidikan yakni strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran terus mengalami perubahan berdasarkan kebijakan pemerintah.
Berdasarkan jurnal yang saya baca penulis menuliskan mengenai apa itu strategi, teori yang melandasi strategi pembelajaran, berbagai jenis pendekatan dalam pembelajaran.
1. Strategi
Kata strategi berasal dari bahasa Latin strategia, yang diartikan sebagai seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan.
Strategi pembelajaran menurut Frelberg & Driscoll (1992) dapat digunakan untuk mencapai berbagai tujuan pemberian materi pelajaran pada berbagai tingkatan, untuk siswa yang berbeda, dalam konteks yang berbeda pula.
Gerlach & Ely (1980) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa.
Dick & Carey (1996) berpendapat bahwa strategi pembelajaran tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pembelajaran. Strategi pembelajaran terdiri atas semua komponen materi pelajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Strategi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai pola kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan guru secara kontekstual, sesuai dengan karakteristik siswa, kondisi sekolah, lingkungan sekitar serta tujuan khusus pembelajaran yang dirumuskan. Gerlach & Ely (1980) juga mengatakan bahwa perlu adanya kaitan antara strategi pembelajaran dengan tujuan pembelajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien. Strategi pembelajaran terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin bahwa siswa akan betul-betul mencapai tujuan pembelajaran. Kata metode dan teknik sering digunakan secara bergantian.
Gerlach & Ely (1980) mengatakan bahwa teknik (yang kadang-kadang disebut metode) dapat diamati dalam setiap kegiatan pembelajaran.
Teknik adalah jalan atau alat (way or means) yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan siswa ke arah tujuan yang akan dicapai. Guru yang efektif sewaktu-waktu siap menggunakan berbagai metode (teknik) dengan efektif dan efisien menuju tercapainya tujuan.
2. Teori Yang Melandasi Strategi Pembelajaran
Selain menejelaskan apa itu strategi, penulis juga menjelaskan tentang teori apa saja yang melandasi suatu strategi pembelajaranCrowl, Kaminsky & Podell (1997) mengemukakan tiga pendekatan yang mendasari pengembangan strategi pembelajaran.
Pertama, Advance Organizers dari Ausubel, yang merupakan pernyataan pengantar yang membantu siswa mempersiapkan kegiatan belajar baru dan menunjukkan hubungan antara apa yang akan dipelajari dengan konsep atau ide yang lebih luas. Kedua, Discovery learning dari Bruner, yang menyarankan pembelajaran dimulai dari penyajian masalah dari guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelidiki dan menentukan pemecahannya.
1. Belajar Bermakna dari Ausubel
Ausubel (1977) menyarankan penggunaan interaksi aktif antara guru dengan siswa yang disebut belajar verbal yang bermakna (meaningful verbal learning) atau disingkat belajar bermakna. Pembelajaran ini menekankan pada ekspositori dengan cara, guru menyajikan materi secara eksplisit dan terorganisasi. Dalam pembelajaran ini, siswa menerima serangkaian ide yang disajikan guru dengan cara yang efisien.
Model Ausubel ini mengedepankan penalaran deduktif, yang mengharuskan siswa pertama-tama mempelajari prinsip-prinsip, kemudian belajar mengenal hal-hal khusus dari prinsip-prinsip tersebut. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa seseorang belajar dengan baik apabila memahami konsep-konsep umum, maju secara deduktif dari aturan-aturan atau prinsip-prinsip sampai pada contoh-contoh.
Pembelajaran bermakna dari Ausubel menitik beratkan interaksi verbalyang dinamis antara guru dengan siswa. Guru memulai dengan suatu advance organizer (pemandu awal), kemudian ke bagian-bagian pembelajaran, selanjutnya mengembangkan serangkaian langkah yang digunakan guru untuk mengajar dengan ekspositori.
2. Advance Organizer
Guru menggunakan advance organizer untuk mengaktifkan skemata siswa (eksistensi pemahaman siswa), untuk mengetahui apa yang telah dikenal siswa, dan untuk membantunya mengenal relevansi pengetahuan yang telah dimiliki. Advance organizer memperkenalkan pengetahuan baru secara umum yang dapat digunakan siswa sebagai kerangka untuk memahami isi informasi baru secara rinci sehingga Anda dapat menggunakan advance organizer untuk mengajar bidang studi apa pun.
3. Discovery Learning dari Bruner
Teori belajar penemuan (discovery) dari Bruner mengasumsikan bahwa belajar paling baik apabila siswa menemukan sendiri informasi dan konsep-konsep. Dalam belajar penemuan, siswa menggunakan penalaran induktifuntuk mendapatkan prinsip-prinsip, contoh-contoh. Misalnya, guru menjelaskan kepada siswa tentang penemuan sinar lampu pijar, kamera, dan CD, serta perbandingan antara invention dengan discovery (misalnya, listrik, nuklir, dan gravitasi). Siswa, kemudian menjabarkan sendiri apakah yang dimaksud dengan invention dan bagaimana perbedaannya dengan discovery.
Dalam belajar penemuan, siswa “menemukan” konsep dasar atau prinsip-prinsip dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang men-demonstrasikan konsep tersebut. Bruner yakin bahwa siswa “memiliki” pengetahuan apabila menemukan sendiri dan bertanggung jawab atas kegiatan belajarnya sendiri, yang memotivasinya untuk belajar.
4. Peristiwa-peristiwa Belajar menurut Gagne
Gagne (dalam Gagne & Driscoll, 1988) mengembangkan suatu model berdasarkan teori pemrosesan informasi yang memandang pembelajaran dari segi 9 urutan peristiwa sebagai berikut.
a. Menarik perhatian siswa.
b. Mengemukakan tujuan pembelajaran.
c. Memunculkan pengetahuan awal.
d. Menyajikan bahan stimulasi.
e. Membimbing belajar.
f. Menerima respons siswa.
g. Memberikan balikan.
h. Menilai unjuk kerja.
i. Meningkatkan retensi dan transfer.
Ada beberapa dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasi strategi pembelajaran.
Berikut ini akan dikemukakan beberapa di antaranya untuk dipahami dan pada saatnya dapat dipilih dan digunakan secara efektif.
Berdasarkan bentuk pendekatannya, dibedakan:
1. Expository dan Discovery/Inquiry
yang berarti guru hanya memberikan informasi yang berupa teori, generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti-bukti yang mendukung. Siswa hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru.
Pembelajaran telah diorganisasikan oleh guru sehingga siap disampaikan kepada siswa dan siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu, pembelajaran itu disebut ekspositori.
2. Discovery dan Inquiry
Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry (penyelidikan) penemuan adalah proses mental yang mengharapkan siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental, misalnya mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, dan membuat kesimpulan. Konsep, misalnya bundar, segitiga, demokrasi, dan energi.
Prinsip, misalnya “setiap logam apabila dipanaskan memuai”.
Inquiry, merupakan perluasan dari discovery (discovery yang digunakan lebih mendalam). Artinya, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya, merumuskan masalah, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan.
Adapun langkah-langkah inquiry sebagai berikut.
a. Menentukan masalah.
b. Pengumpulan data untuk memperoleh kejelasan.
c. Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan.
d. Perumusan keterangan yang diperoleh.
e. Analisis proses inquiry.
3. Berbagai Jenis Strategi Pembelajaran
A. Strategi deduktif-induktif
B. Strategi ekspositori langsung dan belajar tuntas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar